Sekolah Jepang : Miliki Fasilitas Kolam Renang Meski Hanya 10 Siswa (Part 1)

Sekolah di Jepang

Sebenarnya halangan apalagi yang membuat Indonesia masih belum bisa maju dan merata dalam hal Pendidikan, kurikulum sudah sama dengan kurikulum sekolah-sekolah lain di dunia, bukunya juga sudah sama terus apalagi…. ada 1 hal yang belum sama yakni Sistem Pendidikan dan Pola Pikir. (ini menurut pendapat saya). Kalau sistem pendidikan dan pelaksanaannya sudah baik maka siswa semalas apapun akan dengan terpaksan menjadi seseorang yang terdidik dengan sendirinya.

Berikut ini adalah sedikit wawasan tentang sistem pendidikan di Jepang yang saya peroleh dari Internet,  semoga bisa bermanfaat bagi para pengunjung khususnya temen2 kampus..

Dalam studinya menempuh School Management, Gilig Pradhana, guru SMK Al-Furqan Kebonsari yang mendapatkan beasiswa Monbukagakusho dari pemerintah Jepang ini berbagi pengalamannya berkunjung ke SMA di Jepang.

Ketika saya masuk ke halaman SMA, bangunan sekolah itu mengingatkan saya pada film Doraemon, karena jam yang besar di salah satu bagian gedung tertinggi. Untuk ukuran kota kecil, sekolah yang saya kunjungi cukup besar, bayangkan saja ada dua blok gedung bertingkat 3, satu lagi gedung terpisah yang merupakan gedung olahraga, ditambah lapangan bisbol, dan itu pun masih dilengkapi kolam renang! Dalam hitungan saya menghitung tak kurang dari 1500-an siswa bisa ditampung disana, tetapi dibantah oleh guru yang mengantar saya berkeliling sekolah itu, ternyata siswanya kurang dari 500! Beliau menjelaskan bahwa penyebab utamanya adalah jumlah penduduk yang rendah, disamping pemerataan yang cukup baik.

Tidak Ada SBI

Saya diberitahu bahwa sekolah Negeri di Jepang semuanya minimal berstandar nasional, itulah sebabnya di semua sekolah fasilitasnya seragam. Pemerintah memberikan subsidi penuh meski sekolah tersebut memiliki sedikit siswa seperti sebuah SD terpencil di dekat kota saya yang hanya memiliki 10 siswa. Orang tua tidak khawatir dalam menyekolahkan anaknya yang berusia SD atau SMP karena oleh pemerintah digratiskan dengan kualitas yang setara.

Menariknya, tidak ada kelas akselerasi ataupun Sekolah Berstandar Internasional (SBI) di Jepang. Kepala Sekolah Jepang sempat keheranan akan program SBI di Indonesia yang seolah berlomba mengadopsi kurikulum dari negara lain. Menurut mereka sekolah harusnya mengacu pada kebutuhan bangsanya sendiri, tidak perlu menjiplak dari bangsa lain.

Mungkin itulah sebabnya sekolah Jepang terlihat mempertahankan tradisi, mulai pengajaran tulisan hiragana, katakana, dan kanji (Banyak yang masih kesulitan membaca huruf latin). Kemudian semua papan tulis masih menggunakan kapur, bukannya spidol karena partikel spidol yang kecil lebih membahayakan kesehatan pernafasan. Lalu tidak ada pelajaran bahasa Inggris kecuali setelah jenjang SMP, sehingga kecintaannya pada bahasa nasional lebih kental. Sampai-sampai dulu saya pernah mengeluh, katanya negara maju, tetapi sedikit yang bisa berbahasa Inggris. Sebaliknya, karena saya katakan bahwa bahasa Inggris sudah wajib dipelajari sejak SD, beberapa orang sempat mengira Indonesia pernah dijajah oleh Inggris.

Festival Budaya (Bunkasai)

Kegiatan yang saya ikuti di sekolah tersebut adalah bunkasai atau festival budaya. Di sana saya dan teman-teman lain dari mancanegara memperkenalkan budaya negara asalnya. Dalam stan yang saya dekorasi, saya memasang kain sewek, baju batik, beberapa lembar uang ribuan yang tersisa di dompet saya, berbagai foto panorama dan makanan tradisional dari internet, peta Indonesia, dan kaligrafi arab serta hanacaraka. Saya sendiri mengenakan sarung.

Saat memperkenalkan Indonesia beberapa siswa dan guru sempat mampir ke stan dan terheran-heran mengetahui bahwa Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Beberapa dari mereka pun baru tahu kalau Bali adalah bagian dari Indonesia.

Dalam festival budaya ini siswa menampilkan kreasi dari masing-masing kelas dan ekstra kurikuler. Misalnya klub fotografi memberi layanan foto instan, klub kaligrafi menjual lukisan, sementara tampilan dari kelas-kelas berupa permainan tradisional, rumah hantu, dan sebagainya. Festival ini diselenggarakan setiap tahun dengan mengundang mahasiswa asing untuk saling mengenal budaya dan berkompetisi antar klub.

Silahkan Lanjutkan pada Bagian 2 : Sekolah Jepang – Siswa dilarang bawa Motor – Part 2

2 thoughts on “Sekolah Jepang : Miliki Fasilitas Kolam Renang Meski Hanya 10 Siswa (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s