Sekolah Jepang : Siswa Jepang Dilarang Bawa Motor ke Sekolah (Part 2)

Setelah tulisan yang lalu diceritakan pengalamannya mengunjungi sebuah SMA, kini Gilig Pradhana, guru SMK Al-Furqan Kebonsari ini berbagi pengalaman saat diundang ke beberapa SD di Jepang. Melalui program Teacher’s Training dalam beasiswa Monbukagakusho yang diperolehnya, dia mengambil studi School Management.

Universitas Kobe membawa Kami para mahasiswa internasional ke sebuah SD. Di sana Kami disambut dengan manis sekali, anak-anak kelas 5 membawa selembar kertas yang mereka hiasi dan tulisi nama mahasiswa, “Youkoso Girigu-san” (Selamat Datang Pak Gilig). Saya pun diajak ke kelas mereka. Sambil lalu saya amati bahwa gedung sekolah tersebut ditopang dengan tiang-tiang baja berbentuk pipa sebesar pelukan orang dewasa yang disusun secara diagonal. Rupanya sampai begitu seriusnya orang Jepang menyiapkan diri akan kemungkinan gempa. Kobe menjadi terkenal setelah gempa yang meratakannya pada tahun 1995.

Di dalam kelas saya duduk bersama murid-murid lainnya mendengarkan penjelasan sensei (guru). Pada jam istirahat siang serentak siswa menata kursi membentuk huruf U, sementara sebagian pergi ke dapur untuk mengambil perlengkapan makan. Mereka makan siang bersama di dalam kelas. Menunya siang itu nasi, sayuran, sepotong apel, dan sekotak susu segar. Semua ini gratis dan merupakan program dari Diknas kota Kobe. Masing-masing kemudian mengeluarkan sumpit yang dibawanya dari rumah. Seusai makan semua anak meletakkan piring dan mangkok di keranjang terpisah, lalu membersihkan kotak susunya sebelum dirobek dan dibuang di sampah kertas. Begitu teraturnya. Saya jadi teringat bahwa di kantin kampus sekalipun mahasiswa tidak boleh meninggalkan piring dan gelasnya di meja, mereka harus membawanya ke tempat cuci piring sendiri. Ya, pelanggan tidak sepenuhnya raja disini.

Kemudian satu per satu siswa mengambil alat kebersihan dan mulai menyapu. Tidak ada jadwal piket karena tiap hari jam kebersihan dilakukan bersama-sama. Siswa membersihkan sendiri setiap bagian dari kelas, teras, hingga kamar kecil. Tidak ada siswa yang berpangku tangan. Termasuk seorang anak mengambil tangan saya dan menyuruh saya ikut menyapu. Sebuah pemandangan yang mengharukan tatkala seorang siswa melaporkan bahwa tugasnya di toilet selesai dan dia meminta sensei-nya untuk memeriksa.

Pada saat jam pulang para siswa berkelompok antara 6 s.d. 10 orang. Salah satu membawa bendera berwarna mencolok, agar mudah dilihat oleh pengendara bermotor saat menyeberang jalan. Mereka adalah anak-anak yang tempat tinggalnya saling berdekatan. Dalam perjalanan pulang ini siswa SD wajib berjalan kaki, tidak boleh mengendarai sepeda atau diantar, karena rata-rata jarak rumah ke sekolah sekitar 1 km. Bahkan hingga tingkat SMA siswa dilarang membawa motor sendiri ke sekolah, menurut profesor saya itu dapat membuat anak muda menjadi manja. Dengan berjalan kaki atau bersepeda, siswa akan lebih sehat, kuat, dan selalu bersosialisasi dengan lingkungannya.

Kebijakan wajib belajar di Jepang mengharuskan orang tua menyekolahkan tak jauh dari rumah, toh semua sekolah gratis dan kualitasnya sama. Jaminan inilah yang saya kira menghilangkan gap antara kaya dan miskin. Sekolah tidak dijadikan sebagai ajang bisnis, melainkan untuk menanam tumbuhnya generasi bangsa yang penuh dedikasi.

Untuk menjaga keamanannya setiap siswa sendiri dibekali dengan alarm. Selain itu sekolah mengikutsertakan ibu-ibu rumah tangga sukarelawan untuk berdiri di tepi jalan dekat rumah mereka dan mengawasi kalau-kalau siswa sekolah tersebut membutuhkan bantuan. Dengan demikian dapat mencegah adanya penculikan anak atau kejahatan serupa.

Hal menarik lainnya adalah siswa SD di Jepang yang saya tahu tidak memiliki seragam sekolah, mereka mengenakan pakaian bebas. Begitu pula dengan pegawai pemerintahannya di kecamatan, kebijakan seragam sudah dihapus untuk memotong anggaran pengeluaran. Dengan kualitas sekolah yang seragam di seluruh daerah siswa Jepang tidak memandang penting seragam almamater.

Banyak hal positif yang bisa kita pelajari dari negara lain. Terutama dalam kondisi Indonesia yang kacau balau seperti saat ini pemerintah bertanggungjawab untuk mengusahakan pendidikan yang merata, bermutu, dan gratis.

7 thoughts on “Sekolah Jepang : Siswa Jepang Dilarang Bawa Motor ke Sekolah (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s