Google Larang Karyawan Gunakan Windows

CEO Google Erick Schmith

MOUNTAIN VIEW, KOMPAS.com — Raksasa internet Google telah memutuskan untuk tak lagi menggunakan sistem operasi Microsoft Windows di kantor pusatnya. Menurut laporan yang dilansir Financial Times, Google melarang penggunaan Windows di jaringan internalnya untuk mengantisipasi masalah keamanan setelah mengalami kebobolan besar-besaran akhir tahun lalu.

Disebutkan, Google meminta karyawan baru agar tidak lagi memesan komputer dengan sistem operasi Windows. Sebagai gantinya, mereka hanya diperbolehkan menggunakan sistem operasi Linux atau Mac. Sebelumnya, Google membebaskan karyawannya untuk memilih sistem operasi yang diinginkan.

Sejumlah karyawan Google masih bisa menggunakan komputer Windows, tetapi harus dengan izin khusus. Misalnya, pada komputer-komputer yang dipakai untuk mengetes layanan-layanan yang dirilis Google, di mana para insinyurnya masih harus menguji coba secara langsung di berbagai platform.
Baca lebih lanjut

Setting Praktis Ubuntu dengan UCC

Ubuntu Control Center (UCC) adalah sebuah aplikasi layaknya control panel yang ada pada Ubuntu, aplikasi ini terilhami dengan Aplikasi yang ada pada mandriva control Center

Namun aplikasi ini terasa kurang berisi jika di bandingkan dengan Gnome Control Centre, kelebihan dari UCC ini adalah aplikasi ini memang dibuat untuk Ubuntu. Pilihan menu yang masih minimalis mungkin menjadi kekurangan dari aplikasi ini, juga aplikasi ini tidak terdapat di repository PPA tidak seperti aplikasi lain yang ada di Ubuntu.

Jika anda ingin melihat-lihat UCC berikut kami sertakan tangkapan layarnya

Ubuntu-Control-Center-Preview


Baca lebih lanjut

Upgrade ke Ubuntu 10.04 dengan CD

Ceritanya begini,, komputer saya kan dulu udah saya install Ubuntu 9.10 dan sudah banyak aplikasi yang terpasang disana. Nah masalahnya komputer bututku ini ingin aQ install Ubuntu 10.04 yang terbaru, setahu saya untuk ganti ke Ubuntu versi terbaru tanpa harus menghilangkan aplikasi yang sudah saya install yakni dengan cara upgrade. yakni dengan cara apt-get upgrade maka Ubuntu otomatis menjadi versi yang lebih baru yakni Lucid Lynx dengan syarat saat upgrade harus ada koneksi internet.

Serba Serbi Ubuntu 10.04

Nah… yang menjadi masalah adalah saya tidak punya koneksi internet yang cepat sehingga untuk upgrade males nunggunya di kampus unijoyo juga kalau siang lambat banget koneksinya jadi ya gitu deh,,. Tetapi setelah cari-cari sana sini akhirnya nemuin juga upgrade pake CD di situs resmi Ubuntu

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk mengupgrade Ubuntu 9.10 ke 10.04 tanpa perlu koneksi internet yang sudah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Baca lebih lanjut

Model Baru pada Ubuntu Keren

New logo for UbuntuNew logo for Ubuntu

Momen menjelang rilis terbaru Ubuntu versi Long-Term-Support (LTS atau Dukungan Jangka Panjang) tampaknya dimanfaatkan oleh Canonical untuk memperbarui brand (pencitraan) Ubuntu. Bila sebelumnya tagline (motto) Ubuntu adalah “Linux for Human Being” (Linux untuk Umat Manusia), maka sekarang akan dirubah menjadi “Ubuntu is Lightware” (Ubuntu itu Ringan). Ya, tema Ubuntu kali ini adalah “light“, yang bisa diartikan sebagai “ringan” dan “bercahaya”.

Selain itu, Ubuntu (dan variannya) juga akan memperoleh sejumlah perubahan yang cukup radikal dari sisi desain, termasuk logo, tema desktop, desain situs, dan lainnya. Perubahan-perubahan ini tampaknya akan direalisasikan sejak rilis Ubuntu 10.04 Lucyd Lynx nanti. Apa saja yang berubah?

Yang paling kelihatan adalah tampilan tema default pada desktop Ubuntu. Berikut tampilannya:

Tampilan tema  desktop baru pada Ubuntu

themes baru pada ubuntu

Tampilan tema desktop baru pada Ubuntu

Booting baru pada Ubuntu

Hmm … sekilas tampilannya terlihat seperti tampilan desktop Mac? ^^ Walaupun demikian, menurut saya, tampilan tema baru ini lebih manis dan segar di mata. Di samping gambar latar belakang baru, beberapa ikon aplikasi dan widget juga diperbarui. Namun ada satu perubahan yang tidak “lazim” yaitu letak tombol Maximize, Minimize, dan Close pada jendela. Ya, tombol-tombol tersebut diletakkan di pojok kiri atas, bukan pojok kanan atas seperti versi Ubuntu sebelumnya. Kesan Mac semakin terasa …. ^^;

Desain baru situs UbuntuDesain baru situs Ubuntu

Ya, situs Ubuntu nanti juga akan mengalami perubahan. Hmm … sekali lagi saya “menangkap” kesan Apple dan Mac pada desain tampilan baru situs Ubuntu ini. Apakah ini hanya perasaan saya saja atau … ? ^^;

Desain baru CD UbuntuDesain baru CD Ubuntu

Desain baru CD Ubuntu ini juga sekilas mengandung unsur Mac … menurut saya. ^^ Jadi, bagaimana komentar anda mengenai pencitraan baru Ubuntu ini? Suka? Tidak suka? Lebih lengkap mengenai pencitraan baru Ubuntu ini bisa anda lihat di tautan sumber (di bawah ini). ^^

Sumber: Halaman wiki Ubuntu tentang Brand dan Brand2

Mencoba Ubuntu Lucid Lynx Testing

Wah, sudah seminggu saya tidak sempet ngeblog, akhirnya punya waktu juga. Jadi kangen nih sama rekan-rekan blogger dan Linuxer semua :P.
Ngomong-ngomong kali ini saya akan mencoba versi percobaan dari Ubuntu 10.04 dengan nama kode “Lucid Lynx”. Versi percobaan ini sudah saya install sehari setelah rilisnya versi Alpha 2, kemudian saya update secara berkelanjutan hingga sekarang. Selama meng-update, banyak sekali perbaikan-perbaikan bug dan stabilitas sistem yang saya rasakan. Fitur-fitur tersebut akan saya ulas disini secara singkat. Kebetulan juga antarmuka dari Ubuntu saya menggunakan Bahasa Indonesia, hingga OpenOffice.org-nya sekalipun (paket openoffice.org-l10n-id sudah masuk pada repository main-nya Lucid Lynx).

Sekedar flashback, Ubuntu 10.04 kali ini akan memfokuskan stabilitas sistem dan pengurangan bug yang akan terjadi, sehingga diharapkan rilis kali ini akan lebih stabil daripada versi sebelumnya. Pantas saja bila versi ini diberi embel-embel LTS alias Long Term Support, dimana dukungan untuk Desktop akan diberikan selama 3 tahun semenjak dirilis, dan server mendapat dukungan sampai 5 tahun setelah dirilis. Untuk info rilis dan masa dukungan, silahkan klik tautan : https://wiki.ubuntu.com/Releases.



Splash baru, berbasis Plymouth


Padahal sebelumnya direncanakan bahwa penggunaan Ubuntu 9.10 (Karmic Koala) akan menggunakan Plymouth sebagai mesin untuk Bootscreen, menggantikan Usplash yang sudah digunakan oleh Ubuntu sejak versi 5.10. Namun hal tersebut ditunda, jadinya Ubuntu 9.10 masih tetap menggunakan Usplash + Xsplash.
Apa keuntungan Plymouth dibandingkan Usplash? Ternyata setelah saya rasakan, dengan penggunaan Plymouth ini, antara transisi penampilan logo splash Ubuntu dengan jendela login (GDM) tidak terjadi flicker, malah menggunakan efek fading sehingga Boot terasa lebih cepat dengan lebih keren menurut saya. Hanya saja, pengunaan splash berbasis Plymouth pada Ubuntu sampai saat ini masih tanpa animasi. Jika anda penasaran seperti apa, silahkan lihat video dibawah ini :

Desktop GNOME secara umum, biasa aja


Memang, tidak ada begitu wah dengan desktop GNOME yang ada pada Ubuntu Lucid Lynx versi percobaan. Wallpaper masih seperti versi sebelumnya, begitu juga temanya. Hanya saja untuk penampilan ikon-nya ada sedikit perubahan, setelah dua hari lalu saya sempat meng-update-nya. Jadi terlihat agak sedikit maco dan keren 😀

Ini sedikit preview-nya saya ambil dari panel bagian atas :




Pengunaan aplet Indikator


Aplet indikator ini menurut saya fungsinya sama saja dengan aplet area notifikasi, tapi entah mengapa beberapa aplikasi kini lebih cenderung memanfaatkan aplet indikator ini untuk menampung ikon-ikon program yang berjalan di balik layar.

Pada versi sebelumnya, aplet indikator ini hanya dimanfaatkan oleh aplikasi perpesanan Empathy dan Evolution (keduanya menyatu dengan ikon berlambang amplop surat). Namun sekarang, aplikasi Rhythmbox, Transmission (jika fungsi “show in notification area” diaktifkan”), dan bahkan bar volume juga ditempatkan di aplet indikator.

Satu hal yang menurut saya menjengkelkan dengan aplet indikator ini adalah pada saat mengganti lagu Rhythmbox melalui aplet indikator. Dulu saya biasa klik kanan lalu pilih “Next”, namun sekarang tidak bisa menggunakan klik kanan, melalinkan harus klik kiri. Sepertinya ini sedikit meniru gaya Mac OS X 😀

Simple-scan, aplikasi scaning sederhana


Ribet untuk menggunakan aplikasi xsane hanya untuk sekedar melakukan scanning dokumen secara sederhana? Jangan khawatir, Ubuntu versi terbaru ini menyediakan aplikasi bernama simple-scan, yang bisa dibuka melalui menu Aplications | Graphics | Simple Scan.

Aplikasi ini mampu untuk melakukan scaning melalui scanner yang didukung oleh xsane, serta melakukan fungsi-fungsi sederhana seperti memotong dan memutar hasil scan.
Baca lebih lanjut